TRAVEL DIGITAL ERA MILENIAL

Pariwisata merupakan salah satu kebutuhan yang penting dan paling diminati pada jaman ini, baik itu hanya untuk melepas penat di akhir pekan atau berlibur ke luar negeri bersama keluarga untuk menghabiskan waktu-waktu berharga bersama. Terutama pada era milenial ini dimana teknologi telah berkembang pesat terutama internet dan social media yang mengakibatkan lebih mudahnya untuk merencanakan dan mewujudkan liburan impian.

   Sebelum adanya internet, kita harus mengeluarkan lebih banyak uang dan waktu untuk mengunjungi travel agent jika kita ingin membeli paket tour atau tiket pesawat. Sekarang dengan munculnya aplikasi – aplikasi travel seperti traveloka, Pegi Pegi dan sebagainya, hal itupun menjadi jauh lebih mudah.

Kita tidak perlu untuk pergi ke travel agent dan hanya perlu untuk membuka aplikasi yang ada di handphone kita, dan dengan hitungan menit kita dapat memesan tiket pesawat, kamar hotel dan bahkan tiket masuk tempat wisata.

Pegi Pegi, salah satu website yang memberikan pelayanan pemesanan tiket dan jasa wisata secara online.

   Contoh lainnya adalah dengan berkembang pesatnya internet kita dapat lebih mudah mencari informasi tentang tempat-tempat wisata yang menarik perhatian kita. Dulunya kita mungkin harus mencari informasi dari buku atau bertanya kepada orang-orang yang telah mengunjungi tempat tersebut namun kini ada ribuan website di internet yang menyediakan informasi tentang pariwisata dan informasi-informasi itu menjadi lebih mudah diakses oleh khalayak umum.

   Meledaknya sosial media pada generasi milenial juga berdampak besar pada dunia pariwisata. Dengan adanya sosial media, promosi dan pemasaran suatu produk pariwisata menjadi lebih mudah dan dapat menjangkau lebih banyak orang. Kini hampir semua travel agent dan penyedia produk wisata memiliki setidaknya satu sosial media. Hal ini membuat orang-orang menjadi lebih mengetahui produk-produk yang mereka miliki dan pelanggan dapat dengan mudah menghubungi travel agent melalui sosial media.

   Sosial media juga berperan penting dalam kepopuleran suatu tempat wisata, terutama aplikasi Instagram. Orang-orang yang mengunjungi suatu tempat wisata cenderung akan memposting foto-foto mereka di tempat wisata tersebut, hal ini dapat membuat orang-orang yang melihatnya  tertarik pada keindahan tempat wisata tersebut yang dapat berujung pada kepopulerannya meningkat serta bertambahnya jumlah wisatawan yang mengunjungi tempat wisata tersebut.

   Contoh tempat-tempat wisata yang menjadi terkenal berkat adanya media sosial adalah Bukit kapur Jaddih di Madura, Pulau Gili Labak di Sumenep, bahkan tempat-tempat yang berada diluar negeri seperti Maldives juga menjadi terkenal berkat adanya sosial media.

   Bukannya tanpa alasan, namun tempat-tempat itu terkenal karena memiliki pemandangan yang unik dan indah sehingga sangat pas untuk dijadikan latar belakang untuk berfoto. Pada dasarnya generasi milenial sangat terobsesi untuk menunjukkan sisi terbaik hidup mereka di sosial media,  hal ini menyebabkan mereka rela meluangkan waktu untuk mengunjungi suatu tempat wisata hanya demi mendapatkan foto-foto yang dapat mereka pajang dan pamerkan di sosial media mereka masing-masing.

   Meskipun perkembangan teknologi di era milenial pada umumnya memiliki dampak positif pada dunia industri pariwisata terutama pada bidang promosi dan pemasaran, namun tentu saja perkembangan teknologi juga memiliki dampak negatif. Yang pertama adalah dengan populernya suatu tempat pariwisata karena sosial media, turis yang datangpun menjadi lebih banyak atau bahkan bisa membludak, hal ini tentu saja mengakibatkan jumlah sampah menumpuk dan juga fasilitas rusak karena ulah wisatawan yang tidak bertanggung jawab. Salah satu contohnya adalah pantai Maya Bay yang berada di Thailand. Keindahan terumbu karang di pulau ini kini sudah rusak akibat banyaknya turis yang tidak bertanggung jawab. Bahkan tak tanggung-tanggung, pemerintah Thailand sampai terpaksa harus menutup pantai ini pada bulan Juni tahun lalu akibat parahnya polusi dan kerusakan pada terumbu karang.

Kerusakan di Maya Bay, Thailand.

   Contoh lainnya adalah taman bunga amaryllis yang terletak di Gunung Kidul yang populer di Instagram sekitar tahun 2015. Hamparan indah bunga amaryllis merah itu hancur akibat ulah pengunjung yang menginjak-injak bahkan berbaring di taman tersebut hanya untuk mendapatkan foto bagus untuk Instagram. Hal ini menyebabkan kemarahan pada masyarakat karena dianggap telah merusak alam dan tempat wisata itu.

   Kesimpulannya, pada era milenial ini industri pariwisata berkembang pesat dan dapat membawa pengaruh baik maupun buruk yang merupakan pilihan kita untuk menggunakan perkembangan teknologi ini secara bijak atau tidak.

Published by bennayaandtourism

Sunda Group Number 22

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started